Tchaikovsky, seorang komponis untuk diceritakan – 2009

Hari itu, hati saya terasa gundah namun juga saya sedikit tersenyum. Komentar-komentar dari teman-teman dan “dosen nakal” menghiasi status profil Facebook saya belakangan ini. Memang, akhir-akhir ini, saya merasa mengalami sesuatu yang mirip dengan yang dialami oleh Beethoven atau Brahms, tetapi saya mendapat celetukan dari Pak Otto. Percakapan dengan Pak Otto Sidharta itu menimbulkan rasa penasaran yang mengganjal benak saya. Saya ingin mencari tahu lebih banyak tentang latar belakang Simfoni ke-4 yang ditulisnya.

Lalu, mengapa harus Tchaikovsky? Bukankah ada Beethoven dengan simfoninya yang legendaris? Apa yang istimewa dari seorang Tchaikovsky?

Kemudian, pada malam itu, saya menelusuri jejak sang komposer ini. Awalnya, saya hanya ingin mencari latar belakang Simfoni ke-4 yang terkesan berkaitan dengan kisah percintaannya yang gagal (menjawab tatapan mata Pak Otto kepada saya), namun kemudian saya menemukan hal-hal yang justru bisa dijadikan inspirasi bagi para komposer saat ini, meski bukan hal yang mudah untuk dijalani.

Tchaikovsky memang mengalami masa kecil yang mungkin tidak begitu baik, setidaknya bagi Tchaikovsky kecil tersebut. Ia dibesarkan oleh seorang ibu yang merupakan istri kedua dari tiga istri yang dimiliki oleh ayahnya. Selain itu, sikap dingin ibunya cukup mempengaruhi perkembangan jiwa Tchaikovsky, apalagi ketika sang ibu meninggal dunia saat ia remaja.